Memori bertuan

Sekejap saja bisikkan fajar yang terbit mengingat kan memori usang di masa kau singgah menuju singgasana ku yang sudah lapuk oleh waktu .

Memori yang terpecah menjadi serpihan serpihan kaca mengotori seluruh benak ku , membayangi seluruh hatiku pada pilu dan sendu tiada berujung .

Jangan kau lupakan seluruh rasa, jika memori telah menjadi tuan yang bersemayam dalam singgasana raja cinta . 

Memori selalu bertuan kepada cinta di benak masa lalu pada jejak jejak langkah dari bahagia menjadi duka dan kisah hanya berujung ukiran , mengukir pada lembaran lembaran bait puisi, berbisik kepada sajak sajak  menjelma menjadi kisah susastra yang terbang ke angkasa.

Bertemu dan bercurah kepada cakrawala perihal masa di belakang fajar terbit dari ufuk sana.

Dansa Gelisah

Alunan jiwa yang menggelora, setiap bisikkan nafas yang menggoda

Langkah langkah kaki yang memuja, sembari menari menenggak gelisah membujur di tubuh 

Irama musik merasukimu, disetiap binaran rembulan bersaksi 

Dekapan mengutukku pada setiap gerakan mengalun menuju gelisahan diri mu 

Senyap senyap para nada bersandiwara

Menghadirkan skenario dan drama

Bermain topeng pada panggung irama

Dan bersaksi dengan dekapan dansa runtuh diantara kita

Lagu yang bergelora, di setiap karpet merah yang menghampar

Lampu lampu indah dengan estetika sentuhan romantisme,

Dan rasa yang beradu menyatu pada langkah merasuki alunan musik beradu menjadi dansa

Ahh dekapan mu hangat  menggoda, membangun kan hasrat sedari tadi memejam

Disetiap gerakan melangkah, tatapan berbinar merekah dan cinta bersatu dengan tarian dansa bergelora~

Jingga

Hangatnya mentari di sore hari

Menyinari kehangatan yang menelusuri seluruh pori pori kulitku 

Hanya saja tak ada yang mengalahkan kehangatan nya seperti dirimu

Ketika jingga mulai nampak

Dan senja saling menyahut jingga dengan mesra

Bersanding sisi tidak akan terpisah

Kuharap kau mengerti tentang segala rasa

Adalah jingga dan senja yang kuinginkan

Tak kan pernah terpisah biar pun bumi mulai malam

Kerinduan nya ber aromakan sayang

Yang di nanti tak akan tau siapa datang

Namun tetap disitulah diriku tegak

Menatap jingga dan senja saling bercumbu hingga kau singgah

Namun tak sekedar singgah

Menjadi senja untuk aku (jingga) tanpa gelisah

Cemburu pada bulan

Katakanlah pada malam yang bersemayam,

Aku cemburu kepada bulan yang selalu bercumbu mesra bersama bintang,

Selalu bersanding sisi dalam awan yang malam

Tak seperti engkau yang selalu jauh, dan aku selalu jauh,

Aku cemburu kepada mereka, yang selalu bisa bertemu walaupun tiap malam,

Tapi kita yang bisa bertemu hanya sekejap tanpa seutas kata penjelasan yang menenangkan

Dan kini tadi malam kubermimpi, tentang dirimu yang sudah menjadi duda dan aku yang masih gadis,

Kenapa dalam mimpi begitu menyakiti,

Aku tak tau apa yang harus kulakukan,

Namun kumenanti kebahagiaan itu datang,

Tak sekedar janji yang akan kau ukir pada malam yang hangat,

Namun seutas kata yang memastikan diriku tak digantung pada rembulan,

Sayang, mungkin kepastian untuk kita akan lama,

Namun waktu yang memburu kan berbisik pada kita, ini hanya sekejap saja,

Tetaplah menjadi seseorang seperti dahulu yang kukenal,

Jangan berubah, karena rasaku yang terus tumbuh tak akan berubah.

Cinta Buta

Teruslah berkelana dan memangsa para jalanv diluar sana

Temukan yang lebih baik dan lebih sempurna dariku

Teruslah merayu dengan para perempuan diluar sana

Temukan yang lebih baik dan lebih cantik dariku

Kini ku enggan tuk menoleh

Pada kebusukan sikapmu 

Cukup sudah dengan kesabaranku yang bertahan

Kini kubuang segala sabar menjadi amarah yang tergantikan

Ku menyerah dan terus menyerah

Begitu bodohnya ,ku cinta buta pada iblis sepertimu

Seharusnya ku iyakan seribu kupu kupu yang mendekati bunga

Namun kau mencari kupu kupu malam yang bersembunyi didalam gelap

Aku lelah dengan diriku yang buta

Terkendalikan cinta buta

Tapi kini sudah tidak kubiarkan diriku dibudak

Oleh cinta buta kepada iblis sepertimu

Namun kau baru sadar akan cinta butaku

Kini tak ada celah untukmu masuk dalam hatiku.

Dekap

Diri ini bergejolak

Diri ini diperbudak oleh hasrat membara

Yang ku tau kuinginkan kau

Dalam genggaman tanganku seutuhnya

Kau dekap diriku , dengan sayang mu

Kasihmu menulusuri setiap pintalan tubuhku yang tersusun

Cintamu masuk pada setiap pori pori kulitku yang hangat

Ahh nadiku mengalun mesra merintihkan namanu

Jantungku berdetak kencang saat kau ada dihadapanku

Nafasku mendesah dengan hangatnya tubuhmu

Kau mengarungi seluruh samudra perempuan yang kau cintai

Berlayarlah bersama gejolak hasrat yang berombak

Jangan menoleh kepada para duyung yang merayu

Teruslah berlayar hingga kau puas dari setiap pintalan tubuhku yang tersusun

Sampai waktu lupa mengingat kan kematian yang memburu

Anggur di Musim Salju

Memori memori yang kau lekatkan pada benakku

Segala kecandaan dan kesedihan yang kau hantui hatiku

Sungguh manis semanis buah anggur dimusim salju

Begitu manisnya anggur bahkan ketika disimpan menjadikan wine yang nikmat

Kuingin menegak wine itu, namun nihil untuk kutenggak

Wine itu hanya nikmat sekejap, kemudian memabukkan di belakang

Begitulah kenanganmu, seperti anggur yang menjadi wine.

Seperti wine yang diminum saat salju turun

Hangat sekedarnya, manis sesaat. Tapi tak akan bisa menghilangkan kebekuan hawa yang menusuk kulit.

Dansa

Yang kau mulai dengan langkah 

Pada ubin yang menyatukan kita

Dan suara suara yang mengalun mesra 

Seketika dekapanmu menyerbu tubuhku yang hampa

Hanya dekapanmu yang membuat desahanku meronta-rontaā€‹

Dipenghujung penghujung kegelapan penantianku akan dirimu yang menggoda

Sayang,,,,, berdansalah denganku bersama hasrat yang membara

Kuterpesona dengan kecupanmu, mautmu yang bergelora

Selangkah dua langkah kita menyatu

Bersama kelamnya malam yang bersaksi

Bahasa tubuh yang kau tampilkan

Kumengerti setiap gerakanmu yang menerpa jantungku

Bisiklah diriku dengan rayuan mautmu yang bergelora

Kujatuh dan terus jatuh dalam cintamu yang membayang

Takut

Sudah ribuan kali aku ditipu oleh harapan

Sudah ratusan kali aku dikhianati oleh kebohongan

Dalam kehidupan sebelum aku jatuh cinta

Aku telah menjadi rapuh bagai setitik salju yang menghilang

Terlalu takut untuk melangkah dalam dunia asmara

Tak kuat menahan rasa sakit yang merajam dada

Aku tak setegar engkau para petualang cinta

Yang rela mengorbankan perasaannya menikmati asam garam tentang dunia cinta

Takut menjadi temanku

Dalam kerinduan yang menghujung

Terpenjara an rasa takut itu bencana

Kau tak akan mampu memanggil berani untuk datang

Karena Takut sudah menjadi bayanganku yang tak terlepaskan

Tanpamu

Kau seperti bintang yang saling bersanding sisi bersama bulan

Menemani malam diangkasa, menghiasi latar panggung cakrawala

Terus jadilah seperti bintang, yang menemani malam dalam keceriaan

Tanpa bintang, malam adalah gelap dan senyap

Tanpa kau, aku membeku dalam kehitaman malam

Kaulah sinar cahaya hidupku, pemberi kehangatan

Bagai mentari yang tak kan terpisah oleh angkasa

Bagai benda yang selalu tersinar dan tak akan terpisah dari bayangan

Tetaplah jadi seperti itu, jangan tinggalkan aku 

Jangan tinggalkan diri ini dalam kedinginan yang membeku

Jangan tinggalkan jiwa ini dengan kegelapan yang menderu

Aku tanpamu adalah hampa tak berasa

Tak Cukup

Aku tak ingin para jalang diluar sana menggodamu

Seolah kamu adalah makanan yang dikelilingi lalat lalat

Ku tak mau kamu menjadi bulan yang dikelilingi bintang bintang

Yang ku mau kamu menjadi itu terus menemaniku seperti amplop dengan perangko

Segalanya kuupayakan hanya untukmu sayang

Cantik saja tak akan cukup untukmu, 

Jika diluar sana para jalang pun banyak yang cantik

Seksi saja juga tak akan cukup untukmu,

Jika diluar sana penari panggung pun seksi

Tapi aku akan memberikan yang terbaik untukmu

Yang tidak akan kamu dapatkan dari wanita lainnya

Karena itu, aku tak ingin kau menoleh kepada perempuan lain

Hanya kamu mentariku yang memberikan kehangatan untukku

Aku takut kehilangan hangatnya kasihmu

Aku takut membeku dalam kesunyian seperti sebelum ada kamu.

Kukira Pudar

Kukira rasa itu telah pudar

Bersama hembusan angin yang menerpa

Saling bersanding sisi bersama burung burung diangkasa

Ternyata masih ada, dan menancap di jantungku.

Tumbuh dan mengakar kuat seperti pohon di alam

Tak kusadari selama ini, kukira rasa sayang itu pudar

Namun setelah bertahun lamanya ternyata ada dan tersadar

Ku tak tau harus apa dengan segala rasa yang menghujam

Dengan segala kerinduan yang mengiris

Namun tak kutampakkan padamu sayang

Segala cintaku cinta butaku dalam dada